Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.093,45 km² dan populasi 1.041.915
jiwa. Ibu kotanya ialah Kota Sumenep.
Nama Songènèb
sendiri dalam arti etimologinya merupakan Bahasa Kawi
/ Jawa Kuno yang jika diterjemaahkan mempunyai makna sebagai berikut :
- Kata “Sung” mempunyai arti sebuah relung/cekungan/lembah, dan
- kata “ènèb” yang berarti endapan yang tenang,
maka jika
diartikan lebih dalam lagi Songènèb / Songennep (dalam bahasa Madura) mempunyai
arti "lembah/cekungan yang tenang".
Penyebutan
Kata Songènèb sendiri sebenarnya sudah popular sejak Kerajaan Singhasari sudah
berkuasa atas tanah Jawa, Madura dan Sekitarnya, seperti yang telah disebutkan
dalam kitab Pararaton tentang penyebutan daerah "Sumenep" pada saat
sang Prabu Kertanegara mendinohaken (menyingkirkan) Arya Wiraraja
(penasehat kerajaan dalam bidang politik dan pemerintahan) ke Wilayah Sumenep,
Madura Timur pada tahun 1269 M
'“Hanata
Wongira, babatangira buyuting Nangka, Aran Banyak Wide, Sinungan Pasenggahan
Arya Wiraraja, Arupa tan kandel denira, dinohaksen, kinun adipati ring
Sungeneb, anger ing Madura wetan”.'
Yang
artinya:
“Adalah seorang hambanya, keturunan orang ketua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa-rupanya tidak dipercaya, dijauhkan disuruh menjadi adipati di Sumenep. Bertempat tinggal di Madura timur.”
“Adalah seorang hambanya, keturunan orang ketua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa-rupanya tidak dipercaya, dijauhkan disuruh menjadi adipati di Sumenep. Bertempat tinggal di Madura timur.”
klik disini !
Prosesi awal dari karapan sapi ini adalah dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura, yaitu Saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang
Karapan Sapi adalah acara khas
masyarakat Madura yang di gelar setiap tahun pada bulan Agustus atau September,
dan akan di lombakan lagi pada final di akhir bulan September atau October.
Pada Karapan Sapi ini, terdapat seorang joki dan 2 ekor sapi yang di paksa
untuk berlari sekencang mungkin sampai garis finis. Joki tersebut berdiri
menarik semacam kereta kayu dan mengendalikan gerak lari sapi. Panjang lintasan
pacu kurang lebih 100 meter dan berlangsung dalam kurun waktu 10 detik sampai 1
menit.
Selain di perlombakan, karapan sapi juga merupakan ajang pesta rakyat dan tradisi yang prestis dan bisa mengangkat status sosial seseorang. Bagi mereka yang ingin mengikuti perlombaan karapan sapi, harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk melatih dan merawat sapi-sapi yang akan bertanding sebelumnya. Untuk membentuk tubuh sepasang sapi yang akan ikut karapan agar sehat dan kuat, dibutuhkan biaya hingga Rp4 juta per pasang sapi untuk makanan maupun pemeliharaan lainnya. Sapi karapan diberikan aneka jamu dan puluhan telur ayam per hari, terlebih-lebih menjelang diadu di arena karapan.
Bagi masyarakat Madura, Kerapan dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Untuk saat ini, selain sebagai ajang yang membanggakan, kerapan sapi juga memiliki peran di berbagai bidang. Misal di bidang ekonomi, yaitu sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan, peran magis religious; misal adanya perhitungan-perhitungan tertentu bagi pemilik sapi sebelum bertanding dan adanya mantra-mantra tertentu. Terdapat seorang 'dukun' yang akan 'mengusahakan'nya. Pada setiap tim pasti memiliki seorang 'dukun' sebagai tim ahli untuk memenangkan perlombaan.
Selain di perlombakan, karapan sapi juga merupakan ajang pesta rakyat dan tradisi yang prestis dan bisa mengangkat status sosial seseorang. Bagi mereka yang ingin mengikuti perlombaan karapan sapi, harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk melatih dan merawat sapi-sapi yang akan bertanding sebelumnya. Untuk membentuk tubuh sepasang sapi yang akan ikut karapan agar sehat dan kuat, dibutuhkan biaya hingga Rp4 juta per pasang sapi untuk makanan maupun pemeliharaan lainnya. Sapi karapan diberikan aneka jamu dan puluhan telur ayam per hari, terlebih-lebih menjelang diadu di arena karapan.
Bagi masyarakat Madura, Kerapan dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Untuk saat ini, selain sebagai ajang yang membanggakan, kerapan sapi juga memiliki peran di berbagai bidang. Misal di bidang ekonomi, yaitu sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan, peran magis religious; misal adanya perhitungan-perhitungan tertentu bagi pemilik sapi sebelum bertanding dan adanya mantra-mantra tertentu. Terdapat seorang 'dukun' yang akan 'mengusahakan'nya. Pada setiap tim pasti memiliki seorang 'dukun' sebagai tim ahli untuk memenangkan perlombaan.
Prosesi awal dari karapan sapi ini adalah dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura, yaitu Saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang
Makanan Khas Sumenep , Kaldu Namanya
Kaldu di sini bukan air rebusan sayuran dan tulang. Melainkan
kuliner yang berbahan dasar kacang hijau, daging sapi atau kikil, daging bagian
kaki sapi. Proses proses pembuatannya memakan waktu hingga dua jam. Kacang
hijau direndam semalaman agar mendapat tekstur agak lunak. Lalu direbus dengan
daging sapi atau kikil. Diberi rempah-rempah seperti bawang putih, bawang
merah, pala, dan merica. Rempah itu dihaluskan lalu ditumis bersama daun kucai.
Setelah kacang hijau, daging atau kikil empuk dan mengental proses memasak
selesai.
Kaldu ini disajikan khas bersama lontong, sambal, kecap,
perasan jeruk nipis, taburan bawang goreng. Jika anda mau dapat menambahkan
potongan kroket dari singkong.
Seiring perkembangan zaman dan maraknya modifikasi terhadap
kuliner, kaldu sebagai makanan khas Sumenep pun ikut dimodifikasi menjadi
kalsot. Yaitu perpaduan antara kaldu Sumenep dengan soto Sumenep. Dalam satu
mangkok soto Sumenep terdiri dari lontong, mie suun, singkong rebus yang
dipotong kecil-kecil, babat, daging bagian lambung sapi. Lalu disiram dengan
bumbu kacang yang dihaluskan yang terdiri dari kacang tanah goreng, petis,
pisang biji. Jika ingin sensasi pedas dapat ditambah cabe rawit sesuai selera.
Lalu disiram lagi dengan kuah rebusan daging dan babat yang telah diberi
rempah. Dan ditaburi dengan taoge goreng. Kalsot yaitu kaldu khas Sumenep yang
saat disajikan ditambah dengan bumbu kacang soto Sumenep.
Ibu-ibu di kampung biasanya menyajikan makanan khas yaitu
kaldu maupun kalsot jika
ada acara penting seperti arisan dan lebaran. Kaldu ini juga dapat dijumpai di
warung makan pinggir jalan atau di areal perkampungan. Kaldu daging biasanya
dibandrol dengan harga kisaran Rp. 10.000 dan untuk kaldu kikil dibandrol
dengan Rp 15.000. Sedang kalsot daging dibandrol Rp. 20.000 dan kalsot kikil
dibandrol dengan harga Rp. 25.000. Tertarik untuk mencicipinya? Silakan
datang kekotaku Madura ya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar